Makna Lebaran secara Sederhana

 

 

Lebaran adalah Gambarsaat yang ditunggu-tunggu oleh setiap umat Muslim. Lebih-lebih lebaran Idul Fitri. Di saat Lebaran Idul Fitri biasanya mereka berkumpul dan bersilaturahim dengan keluarga, kerabat, sahabat, dan tetangga Di saat ini mereka melepas rasa kangen, mereka juga memohonkan maaf dan menerima maaf. Saling memaafkan membuat kita berada pada posisi yang equal. Dosa-dosa yang pernah kita perbuat kepada sesama, baik disengaja atau tidak disengaja akan luluh dan luntur.

Di sinilah dosa-dosa atau kesalahan yang kita miliki kepada sesama menjadi hilang. Itu sejalan dengan makna lebaran. Lebaran berasal dari kata lebar. Lebar dapat bermakna ‘hilang’ atau ‘terbang. Jadi, lebaran dapat dimaknai sebagai hilangnya dosa dan kesalahan yang pernah kita perbuat kepada sesama sehingga kita berada pada titik yang fitri atau suci.

Pulau Kumala, Tenggarong

Awal tahun 2000-an Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Kertanegara, semasa Bupati Syaukani H. R., mencoba menyulap sebuah areal di tengah-tengah Sungai Mahakam yang berada di wilayah Tenggarong untuk dijadikan sarana rekreasi dan entertainment bagi warga Tenggarong dan sekitarnya. Areal tersebut semacam delta di tengah  aliran Sungai Mahakam dan menjadi sebuah pulau kecil tersendiri. Orang-orang dan Pemda setempat menyebut areal tersebut dengan nama Pulau Kumala.

Dengan menggaet kontraktor PT Jaya yang terkenal dalam membangun dan mengelola sarana rekreasi Ancol di Jakarta, Pemda Kutai Kertanegara membangun pulau ini dengan beragam sarana. Ada tempat penginapan semacam cottage, rumah adat Dayak, trek kereta api mini yang mengelilingi sepanjang areal Pulau Kumala, arena bermain bombom car, sky tower yang menjulang tinggi, arena bermain ala timezone, panggung terbuka, kantin, dan sarana outbond. Semua sarana tersebut dibangun dengan sebaik dan sebagus-bagusnya dengan harapan tempat ini akan benar-benar menjadi pilihan utama bagi masyarakat Kalimantan Timur pada umumnya dan masyarakat Tenggarong pada khususnya.

Pada awal peresmian masyarakat sangat antusias untuk memanfaatkan sarana rekreasi dan entertainment ini. Lebih-lebih tempat ini  dilengkapi dengan kereta gantung yang melintas di atas Sungai Mahakam dari dan ke Pulau Kumala. Masyarakat begitu ramai berkunjung ke tempat ini, lebih-lebih pada akhir pekan atau pada musim liburan.

Akan tetapi, keberadaan Pulau Kumala dan sarana rekreasinya sekarang ini sangat meprihatinkan. Pulau Kumala seakan-akan ibarat pepatah: habis manis sepah dibuang. Pulau Kumala yang dahulu sangat dibanggakan kini tidak lebih sebagai barang rongsokan. Hampir semua sarana yang ada tidak terawat dan rusak sehingga tidak bisa terpakai lagi.

Sky Tower yang dahulu sangat digemari dan masyarakat banyak yang naik untuk melihat kota Tenggarong dari atas meskipun dengan tiket yang sedikit mahal kini kondisinya tidak ubahnya seperti besi tua. Teronggok, rusak, dan berkarat. Gantole, si kereta gantung sudah lama tidak beroperasi. Penginapan dan bangunan-bangunan yang lain reot terkena rayap, berdebu, kusam, dan tak bergairah. Kereta api mini sudah lama mogok dengan meninggalkan trek yang terbuat dari rel besi yang sudah mulai usang. Panggung terbuka tak terurus dan ditumbuhi pepohonan di sana-sini. Kolam dan air mancur rusak dan berganggang hijau tebal. Pepohonan tumbuh tak tertata di taman dan di sepanjang Pulau Kumala. WC dan kantin yang ada sangat mengenaskan. Intinya, Pulau Kumala laksana gadis desa yang hilang pesonanya menjadi renta termakan waktu.

Entah hal ini siapa yang bertanggung jawab. Dengan aset miliaran yang tertanam di Pulau Kumala lambat laun aset itu menguap tak berbekas. Pengelola yang ada cuma di pintu gerbang menyodorkan tiket masuk dan tiket mobil wisata keliling yang sudah rusak kondisinya pada har Sabtu atau Minggu, selebihnya tidak menarik lagi dan sepi. Pengunjung pun tidak dalam jumlah ratusan. Hanya puluhan dengan menampakkan rasa kekecewaan yang mendalam, sekaligus menyayangkan!

Apakah kondisi ini akan terus berlanjut dan Pulau Kumala serta  isinya tinggal puing-puing yang tidak lagi mengundang daya tarik? Ke mana pengelola Pulau Kumala? Atau, semua ini karena mismanagement dari semua pihak para penanggung jawab dan pengelola Pulau Kumala? Dalam hal ini termasuk Pemda Kutai Kertanegara.

Yang lebih tidak menarik lagi, untuk mencapai Pulau Kumala tidak ada sarana transportasi yang memadai  dan menjamin kemanan dan keselamatan. Dengan begitu orang-orang pun menjadi khawatir akan keselamatannya bila hendak ke Pulau Kumala. Maka, tidak heran yang berkunjung ke sini beberapa orang saja.Sarana bermain dan taman yang memprihatinkan

Sampai kapankah keadaan ini terus berlanjut?

Profesi, Hanya Ada Dua: Guru – Bukan Guru

Boleh jadi Anda akan bisa menyebut beberapa macam profesi yang ada di dunia ini, manakala anda ditanya oleh rekan. Misalnya, dokter, insinyur, pilot, pedagang, karyawan, arsitek, pilot, dan lainnya. Anda tidak salah bila menyebutkan hal-hal demikian. Akan tetapi mari kita renungkan lagi! Jangan terlampau terburu-buru…!

Bila kita perhatikan mengapa orangtua kita, khususnya ibu, begitu telatennya mengawal kita sejak masih kecil. Beliau memberikan ini – itu. Beliau mengingatkan ini – itu. Beliau menasihatkan ini -itu. Dan lainnya, sampai akhirnya kita bisa lepas dari kawalan dan perhatian ibu dan orangtua kita. Orangtua kita, ibu kita, bisa yakin dan percaya bahwa kita sudah bisa siap berhadapan dengan dunia ini. Dan, seandainya kita terjatuh saat bergumul dengan dunia dan isinya, tak segan orangtua kita memberikan sesuatu yang mereka miliki sehingga kita bisa siap lagi mengahadapi putaran dunia.

Tidak hanya orangtua, orang-orang di sekitar kita pun siap memberikan sesuatunya kepada kita agar kita menjadi lebih paham dan mengerti tentang dunia ini. Mereka ada nenek, kakek, paman, bibi, kakak, adik, tetangga, sahabat, kenalan, orang yang singgah, orang yang lewat, orang yang nongkrong di warung, orang yang ditemui di perjalanan, dan di tempat-tempat lainnya atau mereka yang dengan sabar – ikhlas menghadapi kita dalam membaca tanda-tanda zaman di ruangan kelas. Mereka semua membukakan mata, pikiran, dan hati kita sehingga kita menjadi manusia yang tahu, mengerti, dan paham serta mampu.

Tapi, sebaliknya kadang, ada beberapa orang yang merasa lebih tinggi dari diri kita sehingga apa yang dia miliki dan punyai tidak bisa disampaikan kepada kita. Bahkan, mereka menutup diri. Angkuh. Cuek. Tak peduli. Serta meresa berat bila berbagi. Mereka senang bila susah. Sebaliknya, mereka susah bila kita senang.

Bila kita cermati dari ilustrasi di atas, maka dapat disimpulkan: mereka yang mau berbagi dengan diri kita dan diri orang-orang di sekitarnya adalah para teladan. Dan, keteladanan adalah sikap yang mutlak dimiliki oleh seorang guru. Maka, mereka itu semua adalah para guru.

Sebaliknya, mereka yang merasa lebih tinggi dari yang lainnya, tak peduli, cuek, senang kalau orang lain sudah adalah orang yang tidak bisa diteladani. Maka, mereka itu bukanlah guru.Melayani

Vacation on Idul Fitri 1430 H

Tidaklah mudah untuk bisa melakukan vakansi atau berlibur dengan keluarga keluar kota dari sebuah rutinitas. Mengingat, jadwal berlibur harus mengikuti jadwal kantor. Maka, ketika masa berlibur tiba, tidaklah kami siasiakan kesempatan tersebut. kami sekeluarga berlibur dan mengunjungi kerabat keluarga di Samarinda, Muara Jawa – Kutai Kertanegara, Tenggarong, Balikpapan, dan sekitarnya.

Dengan mobil pribadi kami sekeluarga berangkat dari Kota Sangata, sebuah kota tambang batubara terbesar, sehari menjelang lebaran ke Samarinda. Selama perjalanan tidak ada masalah sehingga kami sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Esok paginya saya bersama istri dan anak-anak bersholat ied di Masjid Islamic Centre, Samarinda. Untungnya cuaca sanagt kondusif, tidak seperti tahun sebelumnya pas hari lebaran sejak subuh hujan lebat tiada henti.

Setelah dari masjid kami pulang dan bersalam-salaman dengan orangtua dan keluarga. Kemudian menyambut tetamu yang berkunjung untuk bersilaturahmi.

Hari kedua lebaran kami menuju ke kota Muara Jawa (Handil) yang masih termasuk wilayah kabupaten Kutai Kertanegara. Kota ini merupakan muara Suangai Mahakam yang mengalir ke laut Selat Sulawesi. Di sini kami berziarah ke makam tetua kami. Selanjutnya kami melakukan silaturahmi dengan keluarga.

Jalanan Samarinda – Handil (Muara Jawa) terbilang baik, meskipun ada beberapa ruas jalan yang harus dilalui dengan hati-hati. Dengan melewati kota Palaran, Sangasanga, Bantuas, dan Dongdang mobil kami menembus jalanan yang kanan-kirinya hutan berbukit-bukit dan sekali-sekali terdapat areal tambang batubara. Kami pun menyusuri jalanan tak beraspal sepanjang lintasan jalur pipa minyak PT VICO ke arah daerah Muara Kembang. Kembali ke Samarinda pada sore harinya.

Di hari ketiga, kami ke daerah Sungai Meriam (kampung Kajang) sekitar wilayah Kutai Lama (Anggana). Di sini pun kami melakukan silaturami dengan kerabat dan keluarga. Daerah ini meskipun jalanan mulus tapi kecil berkelok-kelok dan berbukit-bukit sehingga harus ekstra hati-hati melintasinya. Daerah ini bersisian langsung dengan Sungai Mahakam yang semakin hari semakin terkikis terkena abrasi, mengingat banyak kapal yang melintas sehingga gelombang pasang membuat abrasi.

Di hari-hari yang lain kami sempatkan bermain ke Pulau Kumala, sebuah pulau (delta) di tengah-tengah aliran Sungai Mahakam. Untuk ke sana kami harus menaiki perahu kecil, perahu ces atau ketinting. Bagi yang gak berani untuk ke sana naik ketinting, huh… sebuah tantangan sendiri. Kami pun ke Museum Kayu yang bernama Museum Kayu Tua Himba, yang memajang dua ekor buaya raksaksa yang pernah memangsa manusia di sugai sekitar Kalimantan Timur. Kami ke sini untuk memenuhi rasa ingin tahu anak kami karena dia pernah baca di Majalah Bobo tentang Museum ini. Museum ini menyimpan segala jenis kayu dan informasi dari beberapa jenis pohon yang ada di Kalimantan.

Di hari-hari berikutnya kami sekeluarga berbelanja dan bermain di Mall Lembuswana, Samarinda Central Plasa, Mall Mesra, dan Kawasan Niaga ‘Citra Niaga’.

Seminggu setelah lebaran kami ke Balikpapan. Di sini kami berobat ke Rumah Sakit Pertamina kemudian berbelanja di Hypermart, Balikpapan Plasa. Esoknya, setelah check out dari hotel kami menuju ke Bandara Sepinggan, Balikpapan mengajak anak-anak kami melihat pesawat take off dan yang landing. Jam 2-an kami balik ke Samarinda.

Jumat siang, 2 Oktober 2009, setelah sholat Jumat kami bertolak ke Sangata. Perjalanan ditempuh dalam waktu 4,5 jam. Sampai di Sangata pukul 19.20.

Wih, seru juga liburan kali ini.Off Road di Jalur Pipa Minyak VICODi Depan Plang gedung Museum Kayu Tuah Himba

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.